Tuesday, April 17, 2012

3 peninggalan terburuk sekolah

Meskipun saya menyatakan bahwa saya sangat tidak menyukai sekolah tetapi puji syukur bahwa saya sempat  merasakan kehidupan sekolah. Dan atas pengalaman saya tersebut, saya menemukan beberapa sabotase pikiran yang terjadi secara berulang-ulang, sehingga membuat masa depan anak-anak ataumungkin kita mengalami beberapa problem yang cukup sulit untuk diperbaiki kembali.

Yang pertama adalah, ketakutan untuk berbuat salah. Apakah anda menyadari, bahwa sistem sekolah kita mendidik kita untuk tidak salah. Ya, sekolah kita melakukan hal itu hampir di setiap kesempatan yang kita miliki dengannya. Dan saya rasa tidak ada masalah dengan hal itu. 

Namun problemnya adalah, terletak dari cara mereka memperlakukan seorang murid ketika melakukan kesalahan. Mereka menanamkan bahwa melakukan kesalahan adalah hal yang buruk, memalukan, dan sangat mengecewakan, dan tanpa disadari ini membentuk prilaku yang pengecut pada sebagian besar orang hingga masa tuanya, baik mereka yang tergolong cerdas maupun bodoh.

Yang kedua adalah, sistem sekolah kita tidak mengajarkan kita untuk mencari jalan keluar sendiri, mereka hanya memberikan opsi kita tentang bagaimana cara menyelesaikan masalah. Saya menemukannya sejak saya SD sampai saya lulus Sekolah Menengah Atas, saya tidak tau tentang apa yang di ajarkan di Universitas. 

Nah, ketika kita sekolah, kita sering melihat rumus A dan Rumus B, serta hukum A dan hukum B, dan seterusnya. Kita tidak diberikan pilihan untuk menjawab semua masalah itu dengan cara kita sendiri. Dan itu artinya secara tidak sadar itu telah membuat kita kepada suatu pola pikir yang saya anggap sebagai pola pikir "PENYAKIT KRONIS". Pola itu adalah, MEMBACA > MENGHAFAL > MENJAWAB  dan yang seharusnya adalah PRAKTEK > MENGANALISA> MEMBACA > MENGANALISA.  Dan hal ini berdampak sangat krusial terhadap pola kehidupan mereka. Coba kita lihat disekitar kita, betapa banyak orang yang hidupnya hanya untuk membaca keadaan, lalu dia hafal atau ingat, dan hanya mengoceh tanpa melakukan apapun. Itulah sabotase yang paling terlihat jelas dalam kehidupan kita sehari-hari.

Yang ketiga adalah, kurangnya pendidikan emosional disekolah. Kita semua mengetahui, bahwa hampir sebagian besar keputusan atas tindakan yang kita lakukan adalah hasil dari pilihan yang diberikan emosi kita, bukan logika kita. Tetapi berita baiknya adalah, emosi kita juga sering dapat bersinergi dengan logika. Dan hal ini adalah hal yang sering tidak kita sadari.

Ada beberapa faktor yang membuat emosi kita terpisah dari logika kita. Ya itu ketika kita masuk dalam keadaan emosi-emosi negatif yang secara tidak sadar mauk kedalam pikiran kita. Emosi itu berupa rasa takut, serakah, nafsu, dan banyak lagi.

Dan celakanya, pengendalian atas emosi-esmosi buruk itu tidak di ajarkan disekolah. Dan tahukah anda itu sangat-sangat berpengaruh terhadap banyak kehidupan di dunia ini.

Coba lihat, betapa banyak orang yang hidup sampai sekarang karena logikanya dipatahkan oleh pikiran emosionalnya. Sebagai contoh adalah mereka para pegawai yang sekarang hidup miskin dan penuh penderitaan. Dahulu mereka memilih pekerjaannya bukan atas logikanya tetapi karena emosinya. Mereka takut kehilangan rasa aman, mereka kehilangan orangtua yang dulu pernah mengasuh mereka, dan mereka mencoba menggantika posisi orangtuanya dengan pekerjaannya. 

No comments:

Post a Comment